Tuesday, December 24, 2013

Cover Novel Domino

Novel Domino Karya Tanalyna Hasna adalah novel yang unik dan asyik sebagai bacaan remaja dewasa yang mengingatkan pembaca ke masa-masa di sekolah dahulu. Berikut ini bab pertama dari novel tersebut:
1
“Kita perlu buat target nggak?” Rizal bergumam.
Mia menyesap minumannya pelan, setengah memandang ke luar. Sementara Rizal membelokkan mobilnya ke kanan.

If you’re not the one then why does my soul feel glad, today
If you’re not the one then why does my hand fit yours, this way
If you are not mine then why does your heart return, my call
If you are not mine would I have the strength to stand, at all

I never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with

Daniel Bedingfield melantunkan If You’re Not The One dari CD-player. Mia membesarkan sedikit volume-nya kemudian me-lirik ke sebelah kanan. Tepat pada saat itulah ia mendapati Rizal tengah serius mengemudi. “Mm… Target?” Tanya Mia.
Mata Rizal tidak berkedip memandang jalan yang berkabut tebal. “Iya, target. Sesuatu yang ingin kita capai.”
Mia mengernyitkan dahi. “Mm… Tapi sekarang kan bukan malam tahun baru.”
“Target bisa dibuat kapan aja kan?” Rizal menggerakkan stirnya sedikit ke kiri.
Mia tersenyum, mengangguk tiga kali menyetujui statemen Rizal, lalu meletakkan cup hot chocolate-nya yang sudah kosong di atas dasbor. “Target untuk tahun depan?”
Rizal tidak menjawab langsung. Lalu, “Target untuk lima tahun ke depan,” katanya, kemudian, “Targetku lima tahun ke depan adalah aku ingin bekerja di Jogja,” Rizal menekan remnya sedikit ketika ada gundukan polisi tidur. “Alasannya sederhana, aku suka kota itu, dan aku ingin hidup di kota itu.”
Mia memiringkan kepala sedikit. “Mm.... ya, aku juga suka Jogja.” Mia terdiam kemudian, ia masih belum menemukan apa targetnya. ”Aku nggak punya target, eh maksudku... aku belum punya ide bakal punya target seperti apa.”
Hening beberapa saat.
Setelah beberapa meter melaju, Rizal menoleh kiri dan melihat gadis di sebelahnya mematung. “Pastikan saja kita ketemu di Jogja, lima tahun lagi.”
Senyum Mia mengembang. Ini bukan suatu kemenangan, tapi ini tawaran yang menyenangkan. “Deal!” Mia meringis kemudian. “Lihat aja, lima tahun lagi aku bakal jadi bos kamu di Jogja.”
Rizal menganga. “Apa? Bos?! Bos apa?”
Mia menahan tawa. “Kita bekerja di perusahaan yang sama, tapi aku yang jadi bos, kamu jadi karyawanku, hahaha.”
“Enak aja! Mana bisa begitu?” Rizal menyahut cepat, protes. “Aku dua tahun lebih tua dari kamu, aku lebih cepat lulus kuliah, aku sudah ambil skripsi sementara kamu baru semester empat, weekkk,” ledeknya.
***
“Dia benar-benar seperti yang kuinginkan, Nadia.”
Mia menyesap teh hangatnya sambil tersenyum. Ia sudah mengulang-ulang kalimat itu setidaknya tujuh kali sejak Rizal meninggalkan mereka berdua di kantin keesokan harinya.
“Rizal benar-benar tipeku,” ujar Mia sambil mengambil pisang goreng. “Aku suka semua tentang Rizal. Period.. Hehehe.”
“Kamu harus ingat kata-katamu itu di waktu-waktu yang tidak bersahabat,” celutuk Nadia ikut mengambil gorengan. “Eh, kalian belum jadian juga sampai sekarang?”
Tepat saat itu terdengar suara gedubrakan dari arah samping. Keduanya menoleh. Sesosok laki-laki dengan tas laptop warna hitam setengah berlari ke arah mereka. “Makannn! Lapar aku nih!!” Ryan membanting tasnya dengan serabutan. Setelah sukses duduk dengan brutal, ia melambaikan tangan kepada salah satu karyawan kantin, “Mbak! Soto ayam, duaaa!”
Mia dan Nadia menggeleng-gelengkan kepala. “Ryan, calm!” gerutu Mia sebentar. Kepalanya kemudian miring menghadap Nadia. “Eh kamu tadi tanya apa, Nad?”
Nadia mengerjap. “Udah resmi belum sama Rizal?”
“Rizal?!” Ryan ikut nimbrung. “Ohya, kalian gimana tuh berdua? Belum resmi juga?”
Mia menyadari lirikan tajam dilemparkan Ryan dan Nadia ke arahnya, tapi ia pura-pura tidak peduli. Ia tahu persis apa yang ditanyakan sahabatnya itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana menjawabnya, bagaimana menjelaskannya.
“Belom,” sahut Mia enteng.
Nadia mendongak lagi menatap Mia. “Jadi, dibiarkan tanpa status?”
“Yah, mungkin sementara ini, begini jadi lebih baik,” kata Mia sambil melemparkan senyum.
“People fall in love not knowing why or how sih ya? Ya udah lah, mungkin jalannya emang begitu. Hidup ini kan penuh misteri, kalau tidak kita jalani ya mana kita akan tahu itu salah atau benar, itu baik atau tidak,” Ryan berpendapat lumayan masuk akal. “Sebagai teman, aku dukung kamu sepenuhnya. Apapun itu, yang penting kamu nyaman.”
“Waa Ryan kata-katamu bijak sekali,” Mia dan Nadia sama-sama menatap Ryan dengan mata berkilat-kilat memuji.
***
Hari Minggu. Mia baru saja membuka mata. Setelah straching sebentar di atas kasur, ia beranjak ke jendela dan membuka tirai. Dari kamarnya di lantai dua, Mia bisa melihat jalan di depannya masih sepi lalu-lalang kendaraan. Mia tersenyum, menikmati angin sepoi-sepoi menggerakkan ranting pohon mangga di pekarangan rumah. Adegan melankolis memang, tapi udara pagi benar-benar menghipnotisnya memejamkan mata dan membiarkan angin pagi menusuki rusuk.
Hhmm sejuknya pagi ini, sempurna untuk mengawali hari.
Pletak!
Sebuah kerikil dilempar mengenai jendela Mia. Terkaget-kaget Mia membuka mata mencari sumber suara. Di bawah, tepat di jalan depan rumah, sesosok laki-laki berkaos putih melambaikan tangan. Ryan, tetangga yang otomatis terdaulat menjadi teman Mia sejak mereka bayi, tersenyum tengil mengangkat batu sebesar panci berlagak seolah-olah akan dilemparnya kepada Mia.
Mia melotot dan mengangkat genggaman tangannya. “Kalo gentlemen, sini adu jotos! Jangan cuma berani ngelempar batu!”
Ryan terkekeh dan meletakkan batu itu ke tempat semula. “Galak amat, Neng!” Ryan kemudian terbahak. “Lari yuk!” ajak Ryan mengedipkan mata kirinya. Ryan terlihat sangat casual dengan kaos putih, celana pendek warna biru tua, sepatu olah raga warna putih lusuh, dan handuk good morning bertengger di lehernya.
Sepuluh menit kemudian, Mia sudah bersama Ryan ber-jogging mengelilingi perumahan mereka. Setelah dua kali putaran, kaki mereka berteriak minta istirahat.
“Capeknyaaaaa,” keluh Mia mengusap wajah yang berkeringat dengan handuk kecil.
“Bagus dong, itu namanya sehat,” sahut Ryan duduk meluruskan kaki, “Kata orang, health is not everything, but without health everything is nothing.”
“Yaaaapp itu bener banget, seratooosss!” Mia berteriak menyetujui, mengacungkan jempol kirinya.
“Tumben kamu semangat jogging, biasanya setengah putaran minta berhenti,” ujar Ryan meledek, “Pasti semalam habis diapelin deh, trus dibilang gendutan, jadi sekarang niat banget olahraga biar kurus.”
“Yee sok tau!” Mia menonjok lengan Ryan. “Lagian siapaaa juga yang ngapelin.”
Ryan terbahak. “Yee curhat… Hahaha… Ya Rizal lah!”
Giliran Mia terbahak. “Enggak lah… Rizal semalam di perpustakaan kok.”
“Gebetan kamu rajin banget malam minggu ke perpustakaan?”
Mia menonjok lagi lengan Ryan hingga mengaduh. “Rizal kan sibuk nyelesaiin skripsi, wajar dong kalo tongkrongannya pindah ke perpus.”
“Kamu ini cari gebetan kok yang semester tua, ditinggalin melulu kan jadinya? Hahaha kasihan deh temenku ini…,” Ryan ngakak sambil mengacak rambut Mia yang basah berkeringat. Setelah lelah tertawa, Ryan beranjak dari duduk dan bersiap pergi.
Mia mendongak. “Ke mana?”
“Ya pulang ke rumah lah dong yaaa. Baru ngomongin Rizal bentar aja udah mencong-mencong kan otaknya, bener-bener deh cinta bikin saraf otak terganggu hahaha,” jawab Ryan sambil berlari kecil.
Setelah berjalan seratus meter, sampailah di depan rumah Mia. “Aku duluan ya, Yan,” Mia membuka pintu pagar.
Ryan mengerling. “Jam sepuluh aku mau nemenin Nadia ke Kampung Roti, mau join?”
“Mau dong mau dong mau dong!!” girang Mia. “Aku mau muffin-nya Kampung Roti, mau pisang caramelnya juga, hhhmm lezatoss!!”
“Iya udah sana buruan mandi, kagak pakai lama! Aku jemput, harus udah siap. Kalo belom siap, aku tinggal,” ancam Ryan.
Mia bergegas masuk ke dalam rumah. Setibanya di kamar, ia mendapati lampu merah di atas tubuh BlackBerry-nya berwarna merah dan berkedap-kedip. Ia mendapatkan lima misscalled, satu dari Nadia dan empat misscalled dari Rizal. Serta ada dua pesan BlackBerry Messanger dari Nadia dan juga Rizal.

# Nadia_Maharani
Sayooongku Miaaa, aq mau ke kampung roti ni sama Ryan.
Ikutan yuukk, ngidam donatnya nihh..
Kamu mau juga kan?
Halooo Mi?!
PING!!
Lama amat balesnya, masih tidur nih pasti :(

# Rizal
PING!!
Aq tlp gak bangun juga?
Klo udh bangun, miskol ya.
PING!!
PING!!
Ya ampun gak kebangun ya?
Dasar kebooo haha.
Miskol ya kalau udah bangun :)

Hwaaa!! Mia jumpalitan mendapati BBM dan misscall dari Rizal bertubi-tubi. Setelah membalas BBM Nadia, Mia me-misscall Rizal dengan hati berdebar.
Do you ever think when you're all alone
All that we can be, where this thing can go?
Am I crazy or falling in love?
Is it really just another crush?
Crush mengalun dari ponsel Mia beberapa detik kemudian. Rizal calling.
“Halo, Mi?”
“Ya.”
“Lama banget angkat telponnya, baru bangun?”
Mia merona. “Udah bangun dari tadi sih, habis jogging nih sama Ryan.”
“Pantes ngos-ngosan suaranya.”
“Hahahaaa bisa aja, barusan sampe rumah ini. Kamu baru apa, Zal?”
“Baru istirahat aja, ngilangin capek.”
“Habis futsal?”
“Iya, main futsal abal-abal sama sodara-sodara sepupu,” lanjut Rizal, ”Eh, hari Minggu begini rencana mau pergi ke mana kamu, Mi?”
Jangan ajak pergi hari ini, please… Aku ada janji sama Ryan dan Nadia nih.
“Nggak ke mana-mana sih kayaknya, di rumah aja. Kenapa?”
 Ajakin aku jalan hari ini nggak masalah sih sebenarnya, pergi ke Kampung Roti masih bisa kapan-kapan kok.
Rizal tertawa kecil sebentar. “Cari kerjaan kek, ngapain kek, bersihin rumah kek, benerin genteng kek, daripada Minggu-Minggu tidur mulu nanti kamu gendutan lho hahahaa.”
“Yee ogah lah naik-naik genteng. Emangnya kamu mau ke mana, Zal?”
“Mau ke rumah Pak Mahfud, mau konsultasi,” jawab Rizal tidak memenuhi harapan Mia.
Yaaahhhh kecewa berat. “Waa skripsi udah selesai, Zal?”
“Belom, Mi. Makanya mau sharing sama beliau.”
“Sip, mudah-mudahan buruan selesai skripsinya, buruan kerja, hahahaaa….”
“Dan buruan ngelamar kamu ya, Mi? Hahahahaa….”
Mia menjerit tak bersuara. Tubuhnya kini berguling-guling di kasur. Kalimat Rizal menembus alam bawah sadarnya. Membuatnya benar-benar terjerembab dalam cinta. Love can drives you crazy.
“Hehehe…,” cuma kata ini yang bisa keluar dari mulut Mia, walau sesungguhnya dalam hati ia mengamini kalimat Rizal berkali-kali.
“Ya udah gih buruan mandi, baunya sampai sini, bau kambing.”
“Hahaha iyaaa aku mandi sekarang.”
“Oke, have a great day, Mi.”
“You too, Zal.”
-klik-
Mia melempar ponselnya sembarangan. Senyumnya merekah. Benar-benar sedang dibuai asmara. Mia menghentikan perilaku konyolnya ketika kemudian nama Nadia muncul di layar ponselnya. “Haaalllaaaaawwwwww Nadiaaaaaaa!!!”
“Buset! Aduh! Sadis banget teriakannya!”
“Ahhh maca ciiiiiiyy??” Mia beranjak dari tempat tidurnya, berjalan menuju cermin.
“Lebay deh…,” gerutu Nadia. “Ohhh habis telponan sama Rizal nih pasti?”
Mia melihat wajahnya di cermin. Merah total. Tersipu-sipu. Hatinya melayang-layang. “Iyaaa doongg, kamu pintar deh bisa nebak hahahaa….”
“I know you well, darling Mia. Jadi ikut ke Kampung Roti?”
“Jaadiiiii donggggss,” sahut Mia lebay.
“Miaa! Ngomongnya biasa aja dong jangan ganjen-ganjen, risih tau!” Protes Nadia.
Mia terbahak. “Hahahaha ya udahhh maapp yaaa namanya juga lagi bahagiaaa.”
“Iyaaaa tauuu yang lagi kesambet cinta. Udah, buruan mandi!!”
***
lebih lengkap bisa dibeli di www.cetakbuku.net

Thursday, December 19, 2013

REVIEW: Wait! Wait! by Hatsue Nakawaki and Komako Sakai (Illustrator)

Rating: 5/5 Stars
Genre: Picture Book
Audience: Pre-Kindergarten


Summary: A toddler explores the outside world, chasing after a variety of creatures only to have them escape. Eventually the child is scooped up by dad for the trip home from the park.


First Lines: "Wait! Wait!"

Tracy's Thoughts: Gentle, minimalistic text and delicate acrylic and oil pencil illustrations beautifully capture a child's sense of wonder and growing independence in this quiet picture book originally published in Japan. Simple lines and smudges are used to convey both emotion and movement. The child's facial expressions and movements are perfectly rendered in realistic, subtle detail.Curious children will almost feel the cat slipping from their grasps and will fully relate to the child's startled awe when the pigeons take flight and flap away.

The book's palette is mostly neutrals, with small splashes of color to emphasize flushed cheeks and background details. But the focus throughout is on the toddler, who is at the center of a series of two-page spreads. Dressed in a black and white ensemble of overalls, shirt, and chunky shoes, the child could be either a boy or a girl, adding to the universality of her actions. This is a tender and lovely work which perfectly illustrates a child's curiosity and early interaction with the natural world.

Wednesday, December 18, 2013

Cover Buku Percaya Diri Merintis Usaha


Buku Percaya Diri Merintis Usaha disusun sebagai bagian dari proses kreative penulisanya dalam usahanya mewujudkan sebuah bisnis sederhana yang dapat dikembangkan untuk membantu orang-orang yang menganggur membangun usaha mereka sendiri dengan tanpa modal dalam bentuk uang. Penekanan pada modal kemampuan dalam individu tiap orang menjadi kata kunci penting dalam mewujudkan keinginan mereka dalam mencapai kemakmuran hidup sebagai insan yang membangun usaha sendiri dengan modal kreativitas.

Buku ini bisa dibaca lebih detail dalam format e-book dan buku fisik yang dicetak secara eksklusive dan hanya bisa dibeli secara online di www.cetakbuku.net
untuk ringkasan isi buku dapat dibaca sebagai berikut:


Tujuh tahun sudah berlalu sejak pertama kali buku Percaya Diri Merintis Usaha diterbitkan, semula judul buku ini adalah Home Bussines yang terbit tahun 2005. Sejak saat itu pula perubahan, penambahan materi dan pengembangan tulisan di buku ini terus terjadi. Di tahun 2006 terbit dengan judul yang sama namun perubahan di tampilan dengan penambahan studi kasus pembaca yang menggunakan buku ini untuk mentransformasi kehidupan mereka. Kemudian di tahun 2008, judul Percaya Diri Merintis Usaha digunakan sebagai judul utama yang mencerminkan pertumbuhan keyakinan bagi pembaca buku ini untuk benar-benar mengambil keputusan jalan hidup bagi mereka baik secara ekonomi mau pun keyakinan dalam menjalankan usaha mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam perkembangannya buku ini telah banyak memberi semacam candu pikiran bagi pembacanya sehingga tidak sedikit yang gelisah dan mencoba mencari cara yang lebih nyata untuk mewujudkan impian memiliki usaha sendiri. Beberapa pembaca menelpon untuk mendiskusikan solusi usaha yang bisa dikerjakan. Mayoritas terbentur dengan kata modal yang secara umum mereka pahami sebagai uang sekian puluh juta. Karena itu untuk edisi revisi kali ini, saya sisipkan sekelumit informasi yang dapat digunakan sebagai jalan keluar untuk tetap memulai usaha sendiri dengan apa pun yang Anda miliki saat ini.
Untuk menuju ke sana, ke informasi yang sederhana dan bisa membuat Anda menjalankan bisnis Anda sekarang juga, saya berikan kata kuncinya yaitu INTERNET.
Pernah pada suatu masa di tahun 2010 seseorang dari Lampung menelpon dan bertanya, dengan uang Rp. 200.000 usaha apa yang bisa saya jalankan?
Mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung menjawab, jualan pulsa saja. Saat itu sebenarnya saya sudah menghimpun informasi yang lebih sederhana, bahkan tanpa memerlukan uang, secara fisik misalnya 200.000. Melainkan memerlukan waktu dan kesediaan mengerjakan beberapa hal teknis yang mungkin tidak membutuhkan uang sama sekali. Hanya saja memang membutuhkan koneksi internet dan komputer tentunya. Hal ini bisa disiasati dengan menggunakan warnet.
Mengingat saat ini perkembangan teknologi internet di Indoensia sudah memasuki wilayah-wilayah perkampungan, di mana buku ini pun diakses oleh mereka orang-orang desa yang berpikiran maju, membangun usaha sendiri, sehingga saya meyakini, saatnyalah sekarang saya terbikan edisi revisi yang memberikan sekelumit informasi yang mengantarkan pembaca pada pembangunan usaha secara online dengan media internet.
Patut disyukuri kenyataan bahwa handphone hampir dimiliki oleh setiap orang di Negara ini, dan dengan handphone tersebut hampir bisa dipastikan bisa digunakan online paling tidak dengan Facebook.
Beberapa hal teknis mungkin membutuhkan pendalaman dari buku ini mengenai pembangunan usaha secara online, namun secara umum dengan informasi yang disisipkan di bagian akhir buku ini, para pembelajar muda dengan sendirinya dapat mempraktikan memulai membuka usaha dengan modal koneksi internet dan informasi yang disertakan dalam bagian akhir buku ini mereka bisa menikmati suatu hasil penjualan yang sepenuhnya menggunakan media internet.
Mengingat membangun sebuah bisnis adalah membangun kesadaran yang positif dalam diri sendiri, maka, semua bagian dari edisi buku Percaya Diri Merintis Usaha ini tetap utuh dan dapat dibaca dengan sempurna, dengan tambahan di beberapa bagian di setiap babnya yang memberikan wawasan dan pencerahan akan peluang kehidupan yang lebih baik dengan menjadi masyarakat mandiri secara ekonomi, dan tidak lagi menggantungkan hajat hidupnya pada pekerjaan semata, melainkan juga pada sumber-sumber penghasilan yang tersebar dalam kapasitas pendapatan yang lebih besar dan memungkinkan untuk digunakan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi perseorangan dalam kehidupan mereka.
Akhirnya saya ingin menyampaikan, perhatikanlah cara pandang Anda dalam kehidupan ini, niscaya dari sanalah Anda akan menemukan solusi untuk setiap persoalan yang Anda hadapi saat ini.
Yang tak mungkin adalah ilusi, karena apa yang menurut Anda mustahil, sudah dapat diverifikasi, ada orang lain di belahan bumi ini yang pernah melakukannya. Jadi… Bangkitlah dari mimpi buruk hidup Anda. Anda adalah makhluk Tuhan yang berpotensi tak terbatas untuk mewujudkan apa pun yang Anda inginkan atau pun yang Anda butuhkan.
 

REVIEW: The School for Good and Evil by Soman Chainani

Rating: 4/5 Stars
Genre: Fantasy/Fairy Tale
Audience: Middle-Grade/Tween

Summary:
Children have been disappearing from the village of Gavaldon for generations. Adults claim children simply get lost in the forest and disappear, but the children know the truth. Every four years, two children—one nice child and one nasty child—are spirited away by the mysterious School Master to be trained as heroes and villains, eventually graduating into fairy tales of their own. Sophie has always believed she will be selected for the School of Good and groomed to become a princess. And surely her witchy, loner friend Agatha is destined for the School of Evil. Only once Sophie's dream comes true and she and Agatha are taken by the School Master, the girls find that their presumed destines are flipped and the school is far more dangerous than they anticipated.

First Line: "Sophie had waited all her life to be kidnapped."

Tracy's Thoughts:
I adored this book, with its twisted fairy tales and imaginative world building. At first glance, The School for Good and Evil might feel a bit like a Harry Potter rip-off, with its predestined school divisions, secret corridors, magical creatures, and deadly challenges. The Rowling influence here is undeniable. And yet—for the most part—The School for Good and Evil feels fresh and new. Much of this is due to its examination of the middle ground between good and evil and the unlikely, occasionally uneasy friendship between its two heroines.

Sophie—with her princess hair, flouncy pink dresses, and daily good deeds—is the picture of a Disney princess, while Agatha—a dire, black-clad loner who prefers the companionship of her cat and a quiet cemetery—thinks villains are far more interesting. Which is why the girls are so surprised when pretty Sophie is dropped at the School for Evil and Agatha is assigned to the School for Good. Readers may think they know the "moral of the story"—truth lies beyond appearances, blah, blah, blah. But fortunately for us, the story and its characters are more complicated than that.

The School for Good and Evil is a bit lengthier than necessary, with a somewhat repetitive series of trials and tests, but I was entertained throughout and frequently amused by the snappy dialog and moral dilemmas. Despite its flaws, the The School for Good and Evil is a clever, adventure-filled read that turns the expected clichés of fairy tales upside down. Luckily, this is only the first title of a planned trilogy. A sequel (A World Without Princes) is due out in April 2014 and a film adaptation is currently in development. But for those eager for more, check out the dedicated website and take the exam to determine which school is right for you. (My results: 66.7% Good, 33.3% Evil. Sounds about right ; ) )

Monday, December 16, 2013

Cover Ayat-Ayat Doa Dalam Al-Qur'an

Ayat-Ayat Doa dalam al-Quran adalah sebuah buku yang merangkum setiap doa yang tertulis dalam al-Quran yang dilengkapi dengan sejarah dan proses diturunkannya ayat tersebut dengan diberikan beberapa analisis yang bersifat ilmiah. Buku ini menjadi penting bagi umat Islam sebagai buku yang memudahkan dalam pencarian doa-doa yang disuratkan dalam kitab suci Al-Quran.
Buku ini dapat dipesan dengan menghubungi 08174104111.
Lebih banyak mengenai buku ayat-ayat doa dalam Al-Quran dapat ditemukan dalam update posting bagian ini minggu depan.
Penulis buku ini adalah:


Dr.H. Mardjoko Idris, M.Ag, lahir di Boyolali; pendidikannya dimulai dari Madr. Ibtidaiyah, Madrs. Tsanawiyah, KMI Gontor Ponorogo, kemudian S-1, S-2, S-3 semua ditempuh di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sehari-harinya disibukkan dengan mengajar di beberapa perguruan tinggi, antara lain UIN Sunan Kalijaga; Pacasarjana UIN Sunan Kalijaga; LPSI Univrsitas Ahmad Dahlan Yogyakarta; Pusat Bahasa Budaya dan Agama; dan FAI UAD Yogyakarta.
Selain mengajar, kini mendapat tugas tambahan sebagai Ketua Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Banyak menulis buku, terutama dalam kajian Stilistika dan Semantik al-Qurân; melakukan Pengabdian kepada Masyarakat; serta Pengasuh Pondok Pesantren “Wirausaha” Sunan Kalijaga Jomblangan.
Pernah mengunjungi beberapa perguruan tinggi ternama, antara lain, Cairo University; Al-Azhar University; Menia University; Ainusyam Unversity; Zagaziq University; Dârul ‘Ulûm University; Canal Swes  University, serta Universitas Ummul Qurâ di Makkah.
 

Cover Buku Santri Kalong


Novel Santri Kalong, proses pembuatan cover di kerjakan oleh M. Su'ud, sisi klasik dari desain cover ini ditonjolkan dengan tujuan memunculkan nuansa desa di senja hari dengan seorang anak muda yang akan pergi dengan menggunakan sepeda. Secara umum cover novel ini membangkitkan kenangan pedesaan dengan gambaran seorang santri yang tak menginap di pesantren, melainkan pulang pergi setiap hendak mengaji.

Novel santri kalong sendiri isinya mengenai kisah bangsa Indonesia yang sedang berjuang membangun reformasi untuk rakyatnya yang telah berjuang dalam pergantian rezim. Bagi generasi muda Indonesia, buku ini sangat penting dan harus dibaca. Untuk mengenal dan mencari tahu penggalan sejarah rontoknya sebuah rezim, dan proses peralihannya, menjadi negara yang lebih demokratis. Kisah belum usai, bacalah novel Santri Kalong, ada banyak hal Baik bisa ditemukan di dalamnya. Untuk membaca Review lebih menarik bisa dibaca di Republika: Santri Kalong.
Selain Review di Republika.co.id di atas, bisa juga dibaca mengenai novel ini yang dipaparkan oleh penulisnya M. Shoim Haris dalam blog Kompasiana, sebagai berikut:
Novel religious atau berlatarbelakang santri belum lama menyeruak dalam dunia sastra kita, meskipun kehidupan santri tidaklah bisa dibilang baru. Dalam wacana ilmu sosial telah lama mengkaji masyarakat santri, tunjuklah C Gertz yang mendefiniskan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok; Santri, Priyayi dan Abangan. Kajian Gertz ini selanjutnya banyak ditolak banyak kalangan ilmuwan sosial Indonesia. Definisi seperti tersebut dianggapnya sudah kuno dan tak relevan lagi. Dalam pemahaman lama, Santri seringkali dipersepsikan ‘udik’, ndeso, pinggiran, jauh dari derap kemajuan zaman. KH Sholahuddin Wahid pengasuh pesantren Tebuireng Jombang– cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari– mengatakan, “Santri hari ini tidak bisa dipersepsikan masyarakat pinggiran, dan budayanya sekarang telah masuk dalam mainstream budaya nasional. Novel atau film santri sekarang sudah digemari masyarakat, masuk sebagai best seller atau box office. Kaum santri juga telah mengalami mobilitas vertical yang cukup deras dalam struktur masyarakat Indonesia. Santri yang di pinggiran pelan-pelan menuju ke tengah dalam pusat struktur sosial.
Novel Santri Kalong karya aktivis pergerakan M Shoim Haris ini hendak merekam sebuah fenomena sosial yang melingkupi dunia santri. Shoim hendak mengatakan bahwa Santri di republik ini mempunyai kontribusi bagi setiap perubahan bangsa dan umat di nusantara. Novel Santri kalong merupakan buku kedua dari serial Santri dan Perubahan. Buku pertama, Gadis Penghafal Ayat yang telah terbit di pertengahan tahun 2012. Dalam buku pertama, Gadis Penghafal Ayat, memotret suasana kebatinan bangsa Indonesia menjelang kejatuhan Orde Baru. Seorang gadis penghal al-Qur’an yang diinspirasi nukilan sebuah kitab kuning ‘al-Hikam’ berbunyi ‘ wushuluka ilallah wushuluka ilal ilmi’ (sampaimu pada Allah adalah sampaimu pada ilmu). Nukilan itu menghentakkan pikirannya untuk bersemangat mengejar ilmu pengetahuan di manapun berada. Perkenalannya dengan seorang wartawan, Anto telah menghantarkannya menjadi seorang aktivis pergerakan 98 yang akhirnya menumbangkan Orde Baru. Novel pertama berakhir saat Lai mengetahui Presiden Suharto lengser dan digantikan Wakil Presiden Habibie. Lai sujud syukur di dalam ruangan asing tempatnya diisolasi (diculik).
Kalau dalam novel Gadis penghafal Ayat penuturnya adalah Lai gadis penghafal ayat, sedangkan dalam Santri Kalong penuturnya adalah Anto wartawan yang dicintai Lai. Anto adalah anak dari keluarga miskin yang bercita-cita menjadi santri tulen, dengan bermukim di pondok pesantren. Karena kemiskinan keluarganya ia hanya mampu menjadi santri kalong (santri yang tak menginap di pesantren). Karena pershabatannya dengan santri mukim bernama Rohman, ia terus memupuk asa memperjuangkan kehidupan yang perih. Dengan bekal kesungguhan dan kecerdasannya ia bisa melalui kesulitan dan lulus di sebuah perguruan tinggi, dan menghantarkannya menjadi wartawan. Pergaulannya dengan dosen kritis membuatnya sadar tentang keadaan negerinya. Ia mulai menggeluti persoalan kemasyarakatan dan pergerakan. Dunia yang akhirnya menjebloskannya berhadapan dengan aparat yang kejam saat itu. Anto menjalani penculikan seperti yang dialami Lai perempuan yang dicintainya.
Novel berlatar santri ini ber beda dengan novel religi yang sekarang bertebaran di toko buku. Shoim yang seorang aktivis pergerakan hendak menyampaikan sebuah perjalan bangsa Indonesia melalui era reformasi. Novel ini menjadi berbeda dan unik karena bukan hanya sebuah cerita yang dibalut plot yang menarik tetapi kaya dengan perdebatan seputar wacana keagamaan, sosial, filsafat dan pergerakan. Agaknya shoim sedang merintis genre baru dalam penulisan novel di Indonesia yang mengkonsentrasikan penulisan sastra pemikiran dan pergerakan.
Novel ini mendapatkan respon yang positif dari banyak kalangan, sebagai novel yang memperkaya kazanah pemikiran dan pergerakan di Indonesia. Tentu novel seperti ini akan bernilai bagi generasi sekarang yang tidak mengalami era 98 ataupun sebagai informasi bagi generasi mendatang. Shoim tidak hanya memotret persitiwa dalam sebuah perubahan tetapi juga berusaha menggali pergulatan pemikiran yang melatarbelakangi sebuah perubahan negeri ini.
(Lensa Indonesia)

Sunday, December 15, 2013

Cover Kumpulan Cerpen Lelaki dan Rembulan

Lelaki dan Rembukan adalah buku kumpulan cerpen yang disusun pada tahun awal 2000an, pada masa itu ada rentang yang cukup jauh dengan saat buku ini diterbitkan, dengan model penulisan yang berragam dalam semua cerpen yang ada dalam buku tersebut, frasa-frasa unik sering ditemukan dalam buku ini. Bagi para pembelajar yang ingin menyusun atau menulis sebuah cerpen sederhana yang tidak mau dipusingkan dengan kerumitan plot dan tata kata yang njlimet, bisa belajar dari kumpulan cerpen ini.
Kumpulan Cerpen Lelaki dan rembulan mengisahkan banyak hal yang terjadi dalam pergolakan politik kebangsaan mau pun pencarian identitas seorang remaja yang tersesat dalam rimba informasi yang bergelegak dalam arus internet yang jungkir balik. Silahkan pesan di 08174104111
Berikut ini salah satu cerpen yang termuat dalam buku tersebut:
 
"Kesaksian Terakhir
MATAHARI sudah beranjak dari puncaknya, panas pun sudah tak menyengat lagi. Di padang luas rumput ilalang yang terbentang, aku duduk sendirian mengawasi kawanan dombaku yang sedang merumput, setelah mereka istirahat di bawah pohon karena panasnya sengatan matahari. Domba-domba itu kini dengan tenang merumput kembali di bawah sinar matahari yang meredup karena senja akan segera tiba. 
Sementara aku mengawasi mereka, aku pun menatap langit yang biru tua dihiasi gumpalan-gumpalan awan putih. Khayalanku terbang jauh, melompat-lompat di antara bukit-bukit awan di atas langit. Hembusan angin sepoi sore membuatku semakin terlena dalam khayalanku.
Sesaat kemudian kesadaranku ada jauh di tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya. Aku sepertinya berada di sebuah rumah sakit, sangat jelas tercium aroma karbol dan anti septik di semua lorong yang aku lewati dan orang-orang berseragam putih berlalu lalang di sana. Aku terus berjalan tanpa tahu kemana tujuanku. Tetapi tiba-tiba kakiku berhenti melangkah tepat di depan sebuah pintu. Pintu itu memiliki nomor yang tidak aku mengerti dan beberapa hurup yang tidak aku pahami maksudnya. Aku menatap pintu itu lekat-lekat dan telingaku terusik oleh suara yang datang dari balik pintu itu, suara erangan yang aneh. 
Mataku masih menatap pintu itu dan telingaku semakin tajam mendengarkan sesuatu yang terjadi di balik pintu tersebut. Ada langkah kaki yang diseret, ada kata-kata samar terucap, ada rintihan, dan ada keluh kesah. Pasti di dalam sana ada seorang yang sedang dirawat, pikirku. Tapi siapa? 
Sementara aku masih berdiri mematung di depan pintu, terdengar suara klik pelan dan pintu itu pun terbuka. Seorang lelaki berseragam putih keluar menenteng sebuah catatan di tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelap dahinya yang berkeringat. Sepertinya dokter ini cukup lelah menghadapi pasiennya. Lelaki itu serta-merta mendekatiku dan berkata, "Anda cucunya, bukan?" aku belum sempat menjawab, sang dokter menarik tanganku ke sisi lorong menuju sebuah bangku kosong. Dia mendudukkan aku, sambil menggenggam tanganku dengan erat dia berkata lagi, "Kakek saudara sepertinya tak bisa ditolong lagi. Dia sekarat sekarang." 
Aku sudah akan membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu, tetapi dokter itu langsung berkata lagi, "Kasihan kakek itu, dia orang besar, tetapi di hari tuanya ini dia dikucilkan, dan tidak ada yang mau merawatnya. Untung, saudara sebagai cucunya masih sudi menjenguknya. Saya berterima kasih sekali. Karena, asal saudara tahu, dia sekarang mengharapkan keluarganya datang. Tetapi tak ada satupun dari pihak keluarganya yang dapat dihubungi, mereka semua bersembunyi entah di mana, karena mereka tidak mau terkotori oleh dosa si kakek." 
Setelah berkata demikian si dokter mempersilahkan aku untuk masuk ke kamar si pasien yang kata dokter itu seorang kakek-kakek, kakekku katanya. 
Dalam kebingunganku, aku patuh melangkah masuk ke dalam kamar perawatan. Di sudut sebelah sana ada sebuah dipan beralas kain putih, di atasnya terbaring seorang lelaki tua yang merintih-rintih kesakitan. 
"Inilah kakek saudara yang sejak tadi meminta seseorang menemaninya. Sementara saya memiliki pekerjaan lain yang harus saya selesaikan, saya tak bisa menemaninya terus. Sedangkan perawat, tak ada satu pun yang mau menemaninya, karena mereka takut tertular oleh penyakit si kakek ini." 
Aku mengangguk pelan dan tersenyum. Setelah itu si dokter meninggalkan kami di dalam kamar perawatan. Kini tinggal aku dan dia. Aku tak mengenal dia, tetapi dari sorot matanya, dia sepertinya sudah lama mengenalku. Aku bingung. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? 
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara derap langkah yang sangat ramai. Aku pun tersadar, melihat domba-dombaku berlarian kalang kabut. Ada kuda menderap ke arah kawanan dombaku. Aku segera berdiri dan menghalau domba-dombaku agar tidak berpencar. Kutancapkan tongkat gembalaku di dekat pohon ek besar, domba-domba itu dengan patuh mereka berkumpul mengelilingi tongkatku. Sementara aku segera menghambur ke depan melihat si penunggang kuda yang kini sudah turun dari kudanya. Dia orang yang tak kukenal. Ada perlu apa sebenarnya datang mengunjungiku.
"Salam," orang itu berkata dengan sopan sambil mengangguk.
"Salam," jawabku sambil tersenyum. "Kisanak, ada apa gerangan sudi berhenti di sini?"
"Saya adalah utusan Maha Resi Swanda, beliau meminta saya menemui seorang penggembala yang pertama kali saya temukan dalam perjalanan saya."
"Kalau boleh, saya ingin mengenal siapa kisanak sebenarnya?" tanyaku memotong.
"Saya, Sudra, seorang pengembara yang mendapatkan tugas mulia."
Mendengar jawaban orang ini aku sama sekali tidak mengerti, "Dan apa keperluan saudara menemui saya?" tanyaku lagi.
"Untuk mendengarkan kesaksian terakhir."
"Kesaksian terakhir?" kataku pada diri sendiri.
"Dalam samadi, Maha Resi melihat seorang penggembala sedang duduk menyendiri memandang langit yang biru tua dan beliau dengan jelas melihat si gembala tersebut melompat-lompat di atas awan. Dan tak lama kemudian, Maha Resi melihat penggembala tersebut mengunjungi sebuah rumah sakit." Sudra diam sesaat menantikan tanggapanku, aku tetap diam.
Sudra kembali berkata, "Maha Resi kami mendapatkan tugas dari Hyang Widi untuk menyelamatkan seorang kakek tua yang sangat menderita di akhir hidupnya. Dan kakek itu kini berada di rumah sakit. Karena itu Maha Resi kami bersamadi untuk mendapatkan petunjuk. Hari ini beliau mendapatkan perintah untuk mencarikan seorang penggembala. Kata Maha Resi, Hyang Widi meminta seorang penggembala mendengarkan kesaksian terakhir dari si kakek yang sedang sakit itu. Saya diperintahkan oleh Maha Resi menjemput saudara."
"Bagaimana dengan domba-domba saya?" tanyaku polos.
"Untuk sementara biar saya yang menjaga domba-domba ini," jawab Sudra. "Silahkan bawa kuda ini, dia sudah terlatih untuk sampai ke padepokan Maha Resi Swanda."
Seperti ada kekuatan magis, aku tak dapat menolak kata-kata Sudra, kakiku langsung melangkah mendekati kuda. Padahal aku tahu aku tak pernah menunggang kuda sebelumnya. Tiba-tiba muncul rasa khawatir.
Seperti dapat membaca pikiranku, Sudra berkata, "Tidak perlu takut, Si Jagur akan menjaga saudara hingga sampai di padepokan."
Tanpa ragu lagi aku melompat ke atas pelana. Dalam satu hentakan si Jagur berlari membawaku ke padepokan Maha Resi Swanda.
Apakah ini mimpi? Atau cuma khayalanku?
Aku saat ini sedang melangkah di sebuah lorong rumah sakit, aroma yang tercium dalam khayalanku sama persis dengan aroma di lorong yang sedang kutapaki. Dan orang-orang itu, berseragam putih sama dengan apa yang terlihat dalam khayalanku. Dan pintu itu, dokter itu. Akhirnya aku kini berdiri di samping kakek yang sedang sakit.
Seperti dikatakan oleh Maha Resi kepadaku, aku akan menemui seseorang yang dalam hidupnya pernah menjadi orang besar dan sangat dihormati dan ditakuti. Dia adalah mantan penguasa yang hidupnya kaya raya, dan anak-anaknya dibesarkan dalam pelukan kasih sayang yang tak terhingga. Apa pun telah dikorbankan oleh kakek ini demi kenyamanan hidup anak-anaknya. Tetapi kini saat usianya mendekati ajal, tak satu pun dari anak-anaknya yang datang menjenguknya. Dia ditinggalkan oleh mereka yang pernah disayangi olehnya. Menderita di akhir hidupnya, itulah kata yang tepat untuk kakek ini.
Mata si kakek yang menatapku seakan mengucapkan terima kasih kepadaku, karena aku mau mengunjunginya. Aku hanya menatapnya, tetapi hatiku mendengar kata-kata sang kakek yang ada di hadapanku itu. Dengan tulus si kakek menyampaikan kesaksian terakhirnya kepadaku. Bukan melalui bibir yang dapat saja berkata dusta, bukan pula melalui surat yang ditulis tangannya yang mungkin saja bisa berbohong. Dia mengatakan kesaksian terakhirnya itu dengan tatapan matanya ke dalam mataku, dan mencatatkan kesaksiannya ke dalam hatiku.
"Nak, Kakek tahu kau bingung. Betapa bingungnya engkau kini berada di samping kakek. Engkau tak mengenal kakek, tetapi harus menemani kakek di saat kakek sekarat. Karena itu kakek mohon maaf dan mohon pengertian darimu, nak.
"Hampir setengah abad kakek menjadi orang yang dihormati dan disegani, dan kakek adalah satu-satunya orang yang dianggap layak menjadi pemimpin dari dua ratus juta jiwa lebih di sebuah negeri yang kaya raya. Dan kakek mau menerima itu semua karena kakek tahu dengan begitu kakek akan menjadi orang terkaya di dunia. Benar adanya, tak lama kemudian kakek memiliki kekayaan tak terhingga, negeri yang kakek pimpin stabil, jalan-jalan aspal dibuat, mobil-mobil mewah didatangkan, pasar-pasar dan rumah sakit dibangun, demikian juga dengan rumah-rumah megah yang dibangun di mana-mana. Anak-anak kakek hidup nyaman, sanak saudara kakek berada dalam limpahan kekayaan yang tak terhingga. Semua orang menghormati keluarga kakek, karena kami orang-orang kaya, banyak uang dan memiliki kehormatan. Begitulah."
"Hingga pada suatu hari, sekelompok orang berkumpul dan bersatu mengorek keburukan kakek. Kejelekan kakek dipamerkan di mana-mana. Semua orang tahu semua keburukan kakek hingga mereka lupa pada kebaikan yang pernah kakek lakukan untuk mereka. Semua orang yang tadinya menghormati kakek, kini dengan berani menginjak kepala kakek. Kata-kata menyakitkan dilontarkan untuk kakek, sumpah serapah kejam ditujukan kepada kakek. Benar-benar sebuah siksaan yang pahit bagi kakek di akhir hidup kakek ini."
Sang kakek memejamkan matanya. Hatiku pun tak lagi mendengar kata-katanya.
Tak lama kemudian kakek itu kembali membuka matanya dan menatapku dengan lembut. Hatiku mendengar lagi dia berkata, "Nak, tak lama lagi kakek akan meninggalkan dunia fana ini. Kakek ingin menyampaikan pesan terakhir kakek kepada seluruh rakyat yang pernah menghormati kakek dan kini membenci kakek. Nak, katakan pada mereka... Apa yang kakek lakukan semuanya adalah untuk kebahagiaan mereka juga. Kakek tahu, sekarang mereka menderita. Memang mereka telah lepas dari cengkeraman kakek, tetapi kini mereka jatuh ke cengkraman tangan yang lain yang bisa jadi lebih tajam kuku-kukunya dari kakek...."
Setelah mengatakan itu, mata sang kakek tetap menatapku tetapi tak ada lagi kata-kata yang terdengar oleh hatiku. Mata itu menatap kosong seperti mayat. Aku segera menyentuhnya, wajahnya kuusap, dan mata itu pun terpejam. Dia meninggal. (*)
Desember 2001